Pages

Sunday, March 1, 2015

Saya Oke Kamu Oke (Part 2)



Melanjutkan perbincangan yang sebelumnya yaitu bagaimana membuat kedua belah pihak sama sama senang, win win solution tapi dalam prakteknya enggak bisa selalu begitu. mengalah tapi dengan rasa kecewa, ngedumel dan tidak berani lagi menyatakan keinginan... ya tergantung seberapa besar urusannya ya kalau yang sepele ya kecewa cuma sebentar aja, jangan berlama lama juga dan ketika ada persoalan lagi lalu diungkit ungkit lagi, kekecewaan yang sudah berjalan 250 tahun yang lalu kita omongin lagi, tiap kali ngomongin lagi kekecewaan itu ya akhirnya enggak selesai selesai. 

Ada Pepatah satu dua sisi kita menempatkan diri di sepatu orang orang yang berhubungan dengan kita artinya kita enggak hanya mengukur segala sesuatu seperti sepatu kita tapi juga entah itu partner bisnis, pasangan hidup, perusahaan, akhirnya kita juga harus menempatkan diri kalau saya di pihak dia apa yang harus saya lakukan kalau seandainya dipihak dia apa yang harus saya putuskan. Mungkin itu juga bisa menjadi sesuatu juga dan jalan keluar yang baik juga. 

Ada enggak sesuatu yang ideal dalam stepnya seupaya diskusi yang seru saling memberikan pendapat itu tidak berujung pada keributan artinya tidak dapat apa apa kedua belah pihak ini? Tergantung seberapa besar urusannya misalnya kalau kita ada di pesta pernikahan lalu kita diskusi soal politik, yang satu ikut partai ini yang sana ikut partai sana, lalu ujung ujungnya bisa terjadi perang saudara

Lalu kan kita bertanya apa sih sebetulnya yang terjadi orang lagi di pesta kok kenapa akhirnya ribut.. Di pelajaran etika atau apa mengajarkan kalau kita di pesta jangan ngomongin soal politik karena kita belum tau orang yang kita ajak bicara itu berada di pihak mana. 

Kalau negosiasi bisnis barang kali semuanya harus dibuka diatas meja enggak perlu kebanyakan basa basi, satu dua sisi ketika tawar menawar mungkin sekali sekali kita harus mengempatkan diri di pihak lawan, atau di pihak yang kita ajak negosiasi, tapi di pihak lain mungkin kita harus tetap pada apa yang kita yakini karena itu persoalan besar, persoalan hidup mati, masa depan perusahaan, masa depan saya. 

Memang harus sampai segitunya bahkan sampai mungkin terakhir kita mengatakan "oke kita enggak bisa terus jadi selesai saja negosiasi sampai disini...", Namun kalau untuk persoalan yang sederhana sederhana apalagi persoalan pasangan hidup kembali lagi bertanya seberapa besar sih seandainya saya ngotot dengan katakan membeli sofa, toh akhirnya ujung ujungnya nanti diduduki juga ga ada masalah, ga ketusuk paku ha ha... 

Ada sebuah cerita di dalam sebuah acara peringatan suaminya meninggal istrinya mengatakan begini "Sudah banyak pidato yang memuji dan menyanjung suami saya jadi pada kesempatan ini saya tidak akan bicara tentang semua yang baik tentang suami saya, suami saya suka ngorok keras dan suka buang gas, itulah ketidaksempurnaan suami saya tapi ketika dia meninggal, saya merindukan ketidaksempurnaan itu karena saya merasa ada yang hilang dari hidup saya, walaupun itu mungkin sesuatu yang yang banyak orang anggap itu sesuatu kekurangan, ketidaksempurnaan dari suaminya itu justru menjadi hubungan yang sempurna bagi keluarga itu. 

Jadi jangan mudah marah ketika enggak bisa tidur, Pokoknya kalau suami saya tidur harus di belakang saya karena dia ngorok... jadi saya harus tidur duluan baru dia boleh tidur. Kalau dia tidur duluan saya enggak bisa tidur karena hutan satu hektar 2 hektar semua di gergaji sama dia ha. ha.... Ternyata ketidaksempurnaan itu juga mempunyai hikmah yang membuat saling melengkapi.

Bagaimana kita ketika punya keinginan kemudian si B atau C punya keinginan juga lantas bagaimana bertemu di tengah tengah..., komprominya dengan cara apa..? Balik lagi tergantung seberapa jauh persoalan dengan orang yang kita ajak kompromi, kalau dalam keluarga itu akhirnya masing masing harus saling mengurangi. Satu enggak suka sambel yang satu gila sambel, ujung ujungnya barangkali yang satunya belajar makan sambel.., yang satunya mengurangi tingkat kepedasannya sampai akhirnya ketemu di level yang pedasnya segini... saya oke kamu oke...

Tapi kalau masalahnya di perusahaan kalau seandainya saya oke atasan saya oke dengan semua policy maka saya berbahagia tapi kalau seandainya perusahaan saya oke, atasan saya oke, saya tidak oke saya harus berusaha sedemikian rupa entah itu memakan waktu berapa lama untuk oke karena mungkin saya memaksa perusahaan ini pimpinan saya untuk oke dengan saya. Kalau sudah berusaha sekian lama untuk oke tapi tetap tidak oke apa boleh buat saya harus out... 

Karena kalau hidup saya sengsara, mungkin saya stress terus terusan, lalu menjadi bola salju, saya ngomel terus, saya enggak punya semangat, lalu mungkin target saya menurun, makin frustasi.. lalu apa yang kita dapat?, kita enggak dapet apa apa sehingga kalau masalahnya dalam batas tertentu orang tidak bisa oke ya memang dia harus out lalu mungkin dengan dia punya jalan lain mendapatkan yang lebih bagus sama sama oke, berbahagia.., mungkin karirnya lebih bagus,.. 

No comments:

Post a Comment